" Uda pada pernah nonton "MEGAMIND"? film lama sih. tp dari film ne, kita bs ambil pelajaran. pertama, setiap makhluk lahir dalam keadaan FITRAH, tak memandang bagaimana parasnya. kedua, lingkungan sangat berperan dalam CHARACTER BUILDING. ketiga, PERILAKU MENYIMPANG muncul karena (salah satuny) adanya PELABELAN. dan yang terakhir , HATI NURANI tak bisa menipu; sejahat ia, pasti dalam hati kecilnya ada kebaikan yg akan mengusik dan membuatny gelisah.
DEDICATED buat ADE' KAMI, V^^q. "
http://www.facebook.com/home.php#!/note.php?note_id=192816550738584
Tulisan ini pernah saya post di situs jejaring facebook beberapa waktu lalu. Semata mata sebagai rasa empati saya kepada sang MEGAMIND, sejak banyak orang di lingkungan kerjaku yang membicarakan dia dan blog pribadinya. Dalam blognya (terlepas dengan kontroversi isinya), ia telah menjadi PUBLIC ENEMY bagi para pengunjung blog itu. Namun, dari sekian banyak pengunjung, (rasanya) tidak ada satupun yang bertanya mengapa dia bisa menulis seperti itu atau apa dan bagaimana kronologi cerita. Semuanya mencerca dan menghakiminya. Bahkan, banyak pengunjung yang (saya yakin) bukan dari lingkungan kerja kami ikut berkomentar dan menghakimi. Dan terlepas apakah dia salah, saya berempati bahwa menjadi orang yang terus menerus dihakimi sangatlah tidak enak.
Di saat itulah, sebuah film berjudul MEGAMIND menginspirasi saya menulis catatan di atas. Bagaimana sang tokoh yang sebenarnya baik, menjadi buruk hanya karena PELABELAN dan PENGUCILAN dari lingkungan sekitarnya serta didukung dengan LINGKUNGAN yang tidak baik pula. Atas dasar itulah, saya berpikir bahwa dia hanya korban atas ketiga hal di atas.
Lingkungan kerja yang (mungkin) tidak menerima dia hingga terjadi konflik yang berujung pada pengucilan atas dirinya. Pengucilan yang membuatnya mengungkapkan isi hati dan keluh kesahnya di blog. Tidak ada yang salah dari blog. Namun, saat seseorang menulis dan "berbagi" di media seperti blog maka dia masuk dalam ruang publik yang sangat kompleks. Di sinilah muncul pelabelan. Tulisan tulisannya mengundang kontroversi dan sarat dengan kata-kata yang tidak santun. Namun, jika kita objektif, tentu kita akan melihat terlebih dahulu apa yang menjadi penyebab mengapa ia berbuat seperti itu. Masalahnya, subjektifitas sering lebih unggul dari pada objektifitas. Semua pengunjung yang membaca tulisannya, bisa dipastikan, akan mencerca dan dan menyudutkan.
Dari peristiwa ini, saya belajar banyak hal. Bahwa KOMUNIKASI sangatlah penting. Komunikasi bisa menjadi upaya pencegahan seseorang berbuat menyimpang. Tentu setiap orang pasti ingin didengar. Keluarga mengambil peran pertama dan utama dalam hal ini.
Menjadi OBJEKTIF sangat diperlukan dalam memandang sebuah masalah. Saat seseorang bermasalah, bukan berarti ia mencari masalah. Ia hanya berkeluh kesah dan membutuhkan solusi dan bantuan dari kita. Maka segala bentuk penghakiman justru akan memperburuk masalah dan membuatnya semakin putus asa.
Saya tak bermaksud menghakimi, bahkan saya tak berani untuk itu. Dan saya akui bahwa tulisan ini adalah penilaian yang sepihak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar